Showing posts with label hukuman mati. Show all posts
Showing posts with label hukuman mati. Show all posts

Monday, February 7, 2011

Bisakah Mimpi Buruk Membuat Seseorang Meninggal Dalam Tidur?

Penyakit "sindrom kematian tiba-tiba tak terduga di malam hari" (SUNDS) sangat menakutkan. Penyakit ini menyerang pria dan wanita muda, bahkan membuat orang takut tidur.


http://static.inilah.com/data/berita/foto/1210272.jpg

Asisten profesor kardiologi di Baylor College of Medicine di Houston Matteo Vatta mengatakan,"SUNDS merupakan penyakit genetik yang membuat tubuh gagal mengkoordinasikan sinyal listrik yang menyebabkan jantung berhenti."

Penyakit ini menyerang orang dewasa muda, terutama keturunan Asia Tenggara." Jantung bisa normal selama beberapa waktu, kemudian berhenti mendadak," kata Vatta.

Biasanya, jantung berhenti di malam hari dan di Asia Tenggara menyebabkan lebih banyak kematian di antara laki-laki muda dibanding kecelakaan mobil.

Kematian terjadi pada malam hari karena jantung berdetak lebih lemah ketika orang tidur, kata Vatta. Ketika jantung melambat saat tidur, masalah listrik yang menyebabkan SUNDS menjadi lebih jelas, menyalip kemampuan tubuh mengatur jantung sendiri dan menjadikan jantung kejang mematikan.

Terdapat beberapa teori yang menghubungkan SUNDS dengan stres yang disebabkan oleh mimpi buruk. Penelitian ilmiah menunjukkan adanya hubungan antara kematian SUNDS dan isi mimpi.

Saat ini, tak ada pengobatan efektif untuk SUNDS. Tak ada alasan jelas mengapa cenderung mempengaruhi orang Asia Tenggara dibanding kelompok lain. Sindrom ini sangat sulit dideteksi, bahkan dengan membaca elektrokardiograf sekalipun, kata Vatta.

Dokter di AS dan Eropa pertama kali mengetahui penyakit ini dari pengungsi yang melarikan diri dari Perang Vietnam.

Pengungsi mulai menetap di AS pada akhir 1970-an dan awal 1980-an dan memunculkan cerita misterius pria sehat Asia Tenggara mati dalam tidur dan menyebabkan mereka takut untuk tidur.

Monday, December 20, 2010

Terlalu Banyak Duduk Undang Kematian

Para pakar kesehatan di London mengeluarkan peringatan mengejutkan: duduk itu mematikan. Mereka memperingatkan bahwa duduk dalam jangka waktu lama, meski Anda juga berolah raga secara teratur, dapat berakibat buruk bagi kesehatan.

Tempat Anda duduk pun tak jadi soal, entah di kantor, sekolah, mobil, serta di depan komputer atau televisi. Masalahnya adalah, berapa lama Anda melakukannya. 



Riset para ilmuwan itu memang masih penelitian pendahuluan. Tapi sejumlah studi menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk cenderung menjadi gemuk, terkena serangan jantung, atau, bahkan, meninggal.

Dalam editorial British Journal of Sports Medicine, pekan ini, Elin Ekblom-Bak dari Swedish School of Sport and Health Sciences memberi saran agar pejabat kesehatan memikirkan kembali bagaimana mereka mendefinisikan aktivitas fisik untuk menyoroti bahaya duduk. 

Pejabat kesehatan telah mengeluarkan panduan yang merekomendasikan kegiatan fisik minimum agar seseorang tetap bugar, namun mereka tidak memberikan saran kepada orang untuk membatasi berapa banyak waktu yang dihabiskan dalam posisi duduk. "Setelah empat jam duduk, tubuh mulai mengirimkan sinyal berbahaya," kata Ekblom-Bak. Dia menjelaskan bahwa gen yang mengatur jumlah glukosa dan lemak dalam tubuh mulai padam.

Meskipun orang itu rutin berolah raga, menghabiskan waktu lama duduk di depan meja tetap berbahaya. Tim Armstrong, pakar kegiatan fisik di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan orang yang berolah raga setiap hari, namun masih menghabiskan banyak waktu dengan duduk, baru memperoleh manfaat jika olah raga itu dilakukan beberapa kali dalam sehari daripada dilakukan hanya sekali. 


Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun lalu, para ilmuwan yang melakukan pemantauan terhadap 17 ribu warga Kanada selama beberapa tahun menemukan bahwa orang yang banyak duduk memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi, entah mereka berolah raga atau tidak.

 
"Kami belum memiliki bukti yang cukup untuk menyatakan berapa lama duduk yang berbahaya," kata Peter Katzmarzyk dari Pennington Biomedical Research Center di Baton Rouge, Amerika, yang memimpin studi itu. "Tapi tampaknya, makin sering Anda berdiri dan menyela perilaku tak bergerak itu, makin bagus."

Survei yang dilakukan sebuah lembaga di Amerika Serikat pada 2003-2004 menunjukkan bahwa orang Amerika menghabiskan lebih dari separuh waktu mereka di atas kursi, mulai bekerja di depan meja sampai di balik kemudi mobil. 

Para ilmuwan menyatakan perlu lebih banyak riset untuk mengetahui duduk berapa lama yang berbahaya dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengaruh buruk tersebut.

"Orang harus tetap berolahraga karena itu mempunyai banyak manfaat," kata Ekblom-Bak. "Tapi ketika mereka di kantor, mereka harus berusaha menyela aktivitasnya di atas kursi sesering mungkin. Jangan mengirim e-mail kepada rekan sekantor. Berjalan dan bicara langsung padanya. Berdiri."

Monday, June 21, 2010

Indahnya Ledakan Nuklir....

 Nuklir memang mematikan bila dijadikan sebagai senjata.. namun, sedikit nyleneh... saya ingin ajak anda anda sekalian melihat sisi keindahan ledakan nuklir


http://www.medgadget.com/archives/img/nuke-bomb.jpg








http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/artikel/nuclear.jpg


http://b.imagehost.org/0708/gempa_jogja2.jpg





Bukan indah namun WONDERFUL!!!

Wednesday, April 28, 2010

Perlukah Hukuman Mati Bagi Pelaku Korupsi ?

Pengamat hukum Universitas Pattimura Ambon, Prof. DR. M. Sapteno, mengatakan, wacana penerapkan hukuman mati terhadap oknum pejabat yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi sudah waktunya dijalankan meskipun dianggap melanggar Hak Azasi Manusia.



"Hukuman mati dan proses pemiskinan terhadap para koruptor di Indonesia juga dianggap bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, tapi kejahatan korupsi di negara ini sudah sangat keterlaluan karena dilakukan secara tersistematis sehingga tidak bisa ditolerir lagi," kata Sapteno di Ambon, Jumat (23/4).

Sapteno menyatakan, untuk membongkar jaringan birokrasi yang melakukan tindak pidana korupsi seperti itu dibutuhkan keberanian besar, seperti yang dilakukan mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol Susno Duadji, dalam kasus Gayus Tambunan, yang bisa menyeret hakim dan jaksa yang terlibat perkara penggelapan pajak.

Menurut Sapteno, yang juga Dekan Fakultas Hukum Pattimura, banyak negara-negara besar di dunia saat ini tidak lagi menerapkan hukum mati, kecuali Cina yang telah mengeksekusi banyak pejabatnya karena terbukti korupsi.

"Penerapan hukuman mati dan upaya memiskinkan pejabat korup di Indonesia harus dijalankan agar menimbulkan efek jera bagi mereka yang melakukan, kemudian menjadi pelajaran berharga generasi muda anak bangsa," katanya.

Hal ini dikarenakan, korupsi saat ini sudah dianggap sebuah budaya yang berlangsung di segala bidang kehidupan sulit sekali diubah, sementara di sisi lain kondisi kehidupan masyarakat Indonesia lebih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan.

"Tindak pidana korupsi sebenarnya sebanding dengan tindak pidana teroris karena dianggap sangat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga pemerintah harus bersikap tegas dalam menyikapi persoalan seperti ini," tandasnya.