Monday, October 11, 2010

Syukuri, Karena Hidup Adalah Anugerah


“Demi Masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” QS. Al ‘Ashr 1-3.

Pernahkah sejenak terbersit dalam fikiran kita bagaimana rasanya menghembuskan nafas untuk pertama kalinya ke dunia ?? merenungkan sejenak bagaimana saat kita lahir ke dunia ini? Ketika mendengar jerit tangis bayi-bayi yang baru dilahirkan, saya selalu menghayati kebesaran Allah SWT, membuat saya menerawang jauh 23 tahun silam, kala itu, atas kuasanya lah saya bisa terlahir ke bumi melalui rahim seorang Ibu. Menurut cerita dari Ibu maupun keluarga, Selama 9 bulan lewat 25 hari, saya menjadi beban dalam keseharian Ibu. Sulit bergerak, susah tidur, seakan menjadi hal biasa baginya. Dan ketika saya dilahirkannya ke dunia, dengan penuh kegembiraan dan rasa ikhlas beliau tersenyum menatap tangisan, dan segera memberi pelukan hangat dan air susu yang untuk pertama kalinya mengisi rongga-rongga tubuh saya yang masih rapuh. Saya kembali merenung, betapa gigihnya ayah saya dalam mencurahkan kasih sayangnya, memberikan harta, jiwa, dan raganya untuk anaknya tercinta. Bekerja keras mencari nafkah untuk menghidupi anak istrinya, tanpa pamrih. Saya pun tumbuh dan berkembang dengan baik dalam lingkungan yang sangat kondusif. Sebelumnya saya tak pernah tahu, apa yang telah diajarkan oleh kedua orang tua saya ini saat kecil. Mereka mengajarkan apa itu rukun iman, apa itu rukun islam, dan bagaimana menjalin hubungan antara tetangga dan orang lain. Sama sekali tak tahu. Satu hal yang diajarkan oleh guru ngaji saya pada saat itu adalah berbaktilah pada orang tua, niscaya engkau akan masuk surga..hanya itu.

Sekarang, seiring bertambahnya usia, perlahan saya mulai tahu apa sebenarnya arti hidup. Usia dan waktu hanyalah sebuah garis lurus yang tak kan pernah bisa terulang lagi. Setiap tahun kita selalu memperingati hari ulang tahun. Tapi, apa sebenarnya makna dibalik peristiwa ini? Setiap menjelang ulang tahun tiba semua do’a dan harapan datang silih berganti bersahutan mulai dari keluarga, sanak famili, para sahabat, rekan-rekan sejawat, dan banyak lagi yang lainnya. Renungan menjelang ulang tahun adalah semakin bertambah usia, maka semakin berkuranglah usia saya untuk hidup di dunia ini. Mengingat semua itu, kembali saya terpanggil untuk mengingat apa hal yang baik/terbaik dan berguna atau bermanfaat yang telah saya berikan atau bagikan kepada sesama, terutama lingkup terkecil yaitu keluarga sendiri. Saya merenungkan kembali bahwa selama kita hidup di dunia, kita akan selalu dikenang oleh sesama. Baik itu oleh keluarga, sanak famili, para sahabat, rekan-rekan dan lain-lain, apakah kita telah melakukan hal-hal yang baik ataupun sebaliknya. Apabila kita telah terlabel, bahwa kita banyak melakukan hal-hal yang baik, maka kita akan dikenang jasa-jasa baik kita. Sebaliknya, apabila kita sering melakukan hal-hal yang tidak baik, maka kita pun akan dikenang dengan label tersebut.

Merayakan ulang tahun bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh saya. Biasa-biasa saja, hampir tak ada tanda untuk hari spesial itu selain ucapan selamat. Paling tidak, saya ditodong oleh rekan-rekan di tempat kerja atau teman-teman dekat untuk memberi traktiran. Terkadang ada juga yang memberi sebuah kado atau selembar kartu ucapan, atau sebuah ucapan saja, itu semua saya hargai, karena merupakan suatu bentuk perhatian khusus yang mereka berikan kepada saya secara pribadi. Semua hal-hal tersebut mengekspresikan, bahwa ulang tahun merupakan hari yang spesial bagi kita masing-masing untuk merenungkan arti hidup kita, yang semakin hari semakin bertambah tua. Apa yang telah kita perbuat untuk sesama dan keluarga, negara Tanah Air kita? Menerima dan menikmati berkat dari mereka yang menyayangi/mencintai kita melalui apa-apa yang telah diterima. Dapatkah kita memanfaatkannya untuk berbagi kepada sesama? Kadangkala kita melupakan hal ini karena umumnya yang kita ingat hanya bagaimana kita akan merayakan ulang tahun kita.

Begitu banyak nikmat yang telah diberikan Allah SWT semenjak kita lahir ke dunia hingga usia kita sekarang. Banyaklah bersyukur atas semua nikmat itu. Bersyukur bisa kita mulai dari diri kita sendiri. Bersyukur atas nafas yang berhembus, bersyukur atas mata yang bisa melihat seluruh MahakaryaNya, bersyukur atas telinga yang mendengar setiap talu yang dilantunkan angin, bersyukur atas bibir yang bisa berucap, bersyukur atas kaki yang diberi kesempatan menapaki bumiNya, bersyukur atas tangan yang menghasilkan karya, bersyukur atas tubuh yang menopang kita, bersyukur atas senyuman yang masih bisa mengembang dari bibir kita, bersyukur atas cinta yang menancap di dada, bersyukur atas pakaian yang menempel di badan, bersyukur atas tiap suap makanan yang membuat kita mampu bertahan menjalani kehidupan, bersyukur atas semua nikmat yang diberikanNya, terlalu banyak yang harus disyukuri, Dia memang Maha Pemurah. Jika kehidupan kita selalu di awali dengan bersyukur, insya allah kehidupan kita akan terasa tenang damai, dan selalu merasa tidak kekurangan, karena allah senantiasa memberikan barokahnya.

Persahabatan juga adalah sebuah anugerah yang harus kita syukuri. Dalam salah satu hadistnya Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga tali silaturahim. Persahabatan merupakan bagian dari hidup kita. Dengan membina persahabatan maka kita akan merasakan betapa kayanya hidup kita, berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi kesedihan, berbagi kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh kebahagiaan. Sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Persahabatan adalah kekuatan, karena hidup tanpa teman mati pun sendiri.

Dalam menghadapi kehidupan ini, kita sering merasa hidup begitu menekan dan sulit. Dengan memiliki harapan kita mempunyai alasan untuk tetap melanjutkan hidup. Harapan membuat kita tidak pernah berhenti berjuang. Harapan membuat kita merencanakan langkah-langkah yang tepat bagi kelangsungan hidup. Ini membuktikan bahwa hidup itu berharga karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan untuk membuat kita tetap hidup. Hidup sangat berharga. Hidup menjadi berharga karena kita melakukan sesuatu. Menikmati sesuatu dengan sukacita dan senantiasa hidup dalam kebenaran dan keadilan dengan tetap menjaga hidup kerohanian kita. Keindahan hidup tidak diukur dari panjang pendeknya umur. Tidak juga diukur dari kaya miskinnya orang, tetapi bagaimana ia mengisi hidupnya. Hidup menjadi berarti jika kita mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi orang sekitar, rahmatan lil alamin.

Kita harus sadari bahwa hidup itu sebentar dan pengurangan sisa usia harus memicu diri agar lebih giat ibadah dengan tujuan meraih ridhaNya. Hidup harus terus dijalani, tetaplah bergerak maju sekalipun lambat. karena dalam keadaan tetap bergerak, kita menciptakan kemajuan. Adalah lebih baik bergerak maju, sekalipun pelan, daripada tidak bergerak sama sekali. Semoga doa tulus ikhlas dari rekan-rekan semua dapat membantu menyemangati diri ini dalam memberikan semua yang terbaik dan memperoleh yang terbaik. Semoga sisa waktu ini penuh berkah, dan menjadi titik awal dalam perbaikan amaliyah kita. Terima kasih..